Dugem, yes or no???
Ketika jam telah menunjukkan jam 12 dini hari, semakin ramai pengunjung yang berdatangan, ruangan yang hanya diterangi lampu-lampu berkedipan dengan volume musik yang cukup membuat telinga sakit. Ini merupakan gambaran sekilas mengenai tempat hiburan malam yang cukup dikenal oleh banyak kalangan dalam masyarakat kita khususnya kalangan anak muda yang populer dengan sebutan Dunia Gemerlap (Dugem). Jumlah tempat hiburan cukup bervariasi mulai dari pub, diskotik, hinggah clubbing. Salah satu hiburan malam yang cukup terkenal adalah diskotik, dikawasan tertentu di
Yang menjadi sorotan disini adalah salahkah kita berkunjung ke diskotik atau tempat hiburan malam lainnya. Ini merupakan tanda tanya besar yang ada dikepala kita masing-masing, apakah dengan berkunjung ke diskotik sudah melanggar sila dalam perspektif Buddhis atau melanggar norma yang ada dalam masyarakat. Jika kita meninjau sekilas kebiasaan ini, maka kita akan berasumsi bahwa berkunjung ke diskotik bukan merupakan perbuatan tercela. Memang kebiasaan ini tidak melanggar Pancasila Buddhis ataupun norma yang ada dalam masyarakat. Tetapi kalau kita kaji lebih jauh lagi, akan diperoleh pernyataan bahwa Dugem merupakan awal terbentuknya benih-benih untuk melanggar sila.
Kita mengetahui bahwa masalah-masalah sosial yang sering muncul, seperti pergaulan bebas hingga penyalahgunaan narkoba sebagian besar berawal dari dugem. Banyak kalangan anak muda yang terjerumus kedalam dunia hitam berawal dari kebiasaan ini, seperti pergaulan bebas yang identik dengan seks bebas telah mencerminkan tindakan yang melanggar Pancasila Buddhis yaitu pantangan untuk berzinah, selain itu fenomena meningkatnya tindakan aborsi disebut-sebut sebagai akibat dari pergaulan bebas. Aborsi merupakan tindakan pembunuhan yang sangat berat karena dengan membunuh janin berarti telah membunuh seorang Arahat yang masih suci, perbuatan ini dikategorikan sebagai “Garuka Karma” yang akan menyebabkan pelaku mendapatkan balasan karma yang sangat berat berupa siksaan alam neraka avici yang tak terhingga.
Sedangkan penyalahgunaan narkoba termasuk pelanggaran sila ke-5 pancasila buddhis yaitu pantangan untuk tidak meminum atau memakan makanan yang dapat menimbulkan ketagihan, dalam hal ini termasuk juga dengan mengkomsumsi minuman keras yang dapat menghilangkan kesadaran kita yang menyebabkan seseorang untuk melakukan perbuatan tercela yang tanpa ia sadari. Dengan melanggar pantangan untuk berzinah akan menyebabkan pembalasan karma berupa akan dilahirkan ke alam yang rendah, tetapi pembalasan karma ini dapat juga berbuah dalam kehidupan sekarang, seperti hilangnya keberuntungan dan rejeki yang seharusnya kita terima maupun secara tidak langsung akan menimbulkan penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS.
Tempat hiburan malam dapat dikatakan sebagai tempat yang penuh hal negatif, peluang seseorang untuk melakukan perbuatan tercela sangat besar. Ini disebabkan oleh beberapa faktor pemicu, misalnya tingginya arus peredaran narkoba di tempat hiburan malam, minuman keras yang bebas dijual dan dapat diperoleh dengan mudah, banyaknya pekerja seks komersial, dan faktor yang memegang peranan yang paling penting adalah pergaulan dengan orang–orang yang mempunyai sifat jelek.
Sang Buddha dalam kitab Dhammapada (pandita vagga pasal 3 ayat 78) pernah bersabda bahwa “Jangan bergaul dengan orang jahat, jangan bergaul dengan orang yang berbudi rendah, tetapi bergaullah dengan sahabat yang baik, bergaullah dengan orang yang berbudi”. Dari ayat ini, dapat disimpulkan bahwa Sang Buddha menganjurkan umat manusia untuk menjauhi pergaulan dengan orang yang mempunyai budi yang rendah, jika kita sering mengunjungi diskotik dan bergaul dengan orang disekitar sana apakah dapat kita pastikan bahwa dia memiliki niat dan moralitas yang baik sedangkan kita tidak mengetahui latar belakangnya secara pasti, kita mengetahui bahwa diskotik merupakan tempat dimana banyak sekali hal-hal negatif. Mungkin saja kita bergaul dengan seseorang pecandu narkoba, pengedar narkoba, atau seorang yang hanya memanfaatkan kita untuk kesenangan mereka semata.
Dalam sabdanya, Sang Buddha pernah berkata bahwa mencari seorang sahabat yang berbudi sangatlah susah yang mau berbagi duka dan suka bersama, menjaga sahabatnya dari bahaya, dan dapat dipercaya. Tetapi seandainya, bergaul dengan teman seperti diatas apakah dapat membawa kebahagian kepada kita? Dapat saja ikut terpengaruh berbuat tindakan tak terpuji atau terjerumus bersamanya ke jurang penderitaan.
Hendaknya kita menjauhi tempat hiburan malam tersebut, tetapi ada sebagian orang yang berpandangan bahwa hanya berkunjung ke diskotik tidak akan membawa pengaruh yang jelek terhadap dirinya, apakah ini benar? Kebanyakan manusia memandang suatu tindakan sangat dangkal sekali, mereka tidak menyadari bahwa dari rasa ingin mencoba untuk mengunjungi tempat hiburan malam seperti diskotik secara tidak langsung telah menanamkan pikiran untuk mengunjunginya karena merasa bahwa mereka sudah cukup kuat untuk tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif dari lingkungan dugem, tetapi dari berkunjung yang sekali-kali ini akan menciptakan kunjungan yang rutin, lama kelamaan akan menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan ini lah akan menyebabkan seseorang ikut terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya yang tadinya berawal dari seseorang yang mempunyai keteguhan hati untuk menjalankan pantangan sila tetapi karena godaan yang begitu kuat yang datang dari pergaulan dengan lingkungan seperti ini, cepat atau lambat akan ikut terpengaruh untuk melanggar sila yang dijalaninya. Inilah awal dari penderitaan yang diakibatkan oleh pembalasan karma dari perbuatan yang melanggar sila, pepatah mengatakan “penyesalan selalu datang dibelakang”. Janganlah baru menyesali apa yang telah diperbuat selama ini, terkadang penyesalan berarti sudah terlambat untuk memperbaikinya. Apalagi sebagai seorang mahasiswa yang mempunyai intelektual yang tinggi, masih mempunyai waktu yang panjang untuk mengapai masa depan. Jangan karena dugem menghancurkan impian sampai terjerumus kedalam dunia hitam, bukan saja berdosa terhadap diri sendiri juga telah berdosa kepada orang tua yang selama ini telah menaruh harapan yang besar.
Contoh sederhananya adalah ketika seseorang telah akrab dengan dugem, maka ia akan cenderung untuk bolos kuliah karena kecapekan dugem sampai larut pagi, ini membuktikan bahwa dengan berdugem telah menghabiskan waktu kita untuk melakukan kewajiban kita sebagai seorang mahasiswa. Maka sudah sepantasnya semua orang harus waspada untuk menghindari tempat-tempat seperti ini, walaupun dengan alasan sederhana untuk melihat bagaimana dunia dugem ini apalagi sampai ingin mencobanya.